Sahabat #1

“Halo?”
“Aku sudah mengatakannya”
Terdiam aku mendengarkan suara seorang sahabat di seberang
telepon. Terdengar lirih dan alunan kecewa.
“Kamu di rumah? Aku segera ke sana”
Kami terdiam duduk berdua di
meja makan. Di ujung meja, setoples kerupuk kesukaan juga tidak bergerak.
Padahal biasanya, toples itu akan bergerak dari tanganku ke tangannya pun
sebaliknya. Tidak butuh waktu lama bagi kami menghabiskan isi toples itu.
“Lalu apa yang terjadi?”
Tanyaku setelah hampir setengah
jam kami terdiam.
Agak lama hingga dia berkata,
“Entah mengapa aku berani
mengatakannya. Tadi rasanya bukan aku
saat itu terjadi.”
Diam-diam aku kagum pada sosoknya.
Dibalik sifat pemalu dan jarang bicaranya, tersimpan keberanian luar biasa. Dua
bulan yang lalu, sebuah kabar bahagia menghampirinya. Permohonan beasiswa untuk
melanjutkan kuliah di Sidney diterima.
“Sebelum ke Sidney, aku ingin
mengatakan kepadanya”
“Kamu sudah siap? Bagaimana
kalau dia menolaknya?”
“Aku mengatakannya bukan karena
ingin diterima. Aku hanya ingin memulai hal baru”
Aku sudah lama bersahabat
dengannya. Yang aku suka dari dirinya bahwa dia mampu menjadi dirinya sendiri.
Dia tahu apa yang akan dilakukannya. Dia berbeda dengan kebanyakan orang. Dia
orang yang akan menunjuk aku sambil berkata “kamu salah” bila memang aku sedang
menyimpang. Namun pujian tak pernah segan terlontar darinya ketika hal baik aku
lakukan.
“Ketika aku selesai
mengatakannya, dia memelukku. Dia katakan bahwa akan ada yang memelukku suatu
hari nanti dengan penuh cinta, karena pelukan yang dia beri adalah pelukan
seorang teman yang berterima kasih”
Lanjut dia berkata,
“Aku lega sekarang. Aku siap
memulai kembali di Sidney”
Sahabatku, aku pun lega.
“Ya, kamu akan baik-baik saja”
kataku.
“Ya, aku akan baik-baik saja”
katanya.

Comments
Post a Comment