Pertanyaan Sebelum Menikah


Greeting card with roses and petals on white Free Photo
Kembali lagi dengan judul yang tidak aesthetic sama sekali. Coba utak-atik judul dengan harapan dapat judul kece tapi akhirnya lelah sendiri. LOL. Jadi mohon dimaklumi yaa. Bukannya tanpa usaha, tapi kadang kreativitas tidak increase sebagaimana baiknya *halah*.

Oke, tulisan ini muncul dari hasil perenungan hidup serta didasari dari beberapa curhatan yang mampir seperti “asli, capek benar jadi ibu kalau suami ngga mau bantu urus anak”, “andai tahu kebiasaan keluarga suami dari awal, mungkin aku bakal mikir lama dulu sebelum nikah”, “menikah ternyata rumit ya, pusing aku”.

Tulisan ini dari sudut pandang wanita. Bila nanti ada teman-teman pembaca pria yang ingin menambahkan silahkan di kolom komentar ya, thank you. 

Mengapa perlu berdiskusi sebelum menikah? Karena menikah itu hanya sekali seumur hidup. Kalau pacaran tidak cocok, masih bisa berhenti di tengah jalan. Tapi kalau menikah, no stop and no turning back. Misalnya nih kamu menikah di umur 30 tahun. Lalu ternyata Tuhan beri kamu nafas hidup sampai umur 80 tahun. Pasangan kamu juga umurnya 30 tahun lalu diberi panjang usia yang juga sama. Berarti ada 50 tahun yang bakal kamu habiskan sama-sama dengan pasangan. 50 tahun itu lama. Siap tidak buka mata tiap pagi dan sebelum tidur tiap malam yang kamu lihat orang yang sama? Setiap kita pasti ingin bahagia, termasuk untuk kehidupan pernikahan.

Jadi, buat saya penting untuk bertanya beberapa hal pada calon pasangan sebelum menikah. Dari diskusi kita bisa menilai apakah layak bagi kita untuk memilihnya. Berikut beberapa daftar pertanyaannya. Tidak usah ditanya sekaligus yaa haha. Satu-satu saja sambil berdoa juga tentunya.

Tempat tinggal
1. Setelah menikah tinggal dimana?
2. Bila karena kondisi, apakah tidak masalah bila LDM (long distance marriage)? Sampai berapa lama?

Uang dan pekerjaan
3. Setelah menikah, apakah boleh isteri tetap bekerja? Atau bolehkah isteri tidak bekerja?
4. Bila suami dan isteri bekerja, apakah penghasilan digabung atau terpisah? Bila terpisah, bagaimana pembagiannya?
5. Siapa yang memegang kendali utama keuangan? Suami atau isteri?
6. Apakah akan punya tabungan bersama atau tabungan masing-masing?
7. Bagaimana dengan dana pendidikan anak, dana pensiun dan investasi? Apakah bagi suami dan isteri merupakan hal yang penting?

Anak
8. Setelah menikah apakah ingin langsung punya anak?
9. Ingin punya anak berapa? Bila lebih dari satu, jaraknya berapa tahun?
10. Ingin ber-KB?
11. Tidak mempermasalahkan jenis kelamin anak
12. Bagaimana bila tidak bisa mempunyai anak? Apakah ingin adopsi atau program bayi tabung/IVF?
13. Bagaimana dengan kualitas pendidikan anak? Apakah menganggap penting memilih sekolah?
14. Bila mengurus anak dibantu oleh keluarga lain, bagaimana menerapkan nilai-nilai atau aturan-aturan untuk anak?
15. Nilai-nilai apa yang ingin diterapkan pada anak kelak?
16. Siapa yang akan mengurus anak bila suami dan isteri bekerja? Pakai jasa baby sitter atau daycare?
17. Bersediakah suami ikut membantu mengurus anak? Memandikan anak, menyuapi, mengganti popok, bermain bersama, dll.

Urusan rumah tangga
18. Siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah (bersih-bersih, cuci piring, cuci baju, memasak, dll)? Apakah akan punya asisten rumah tangga?
19. Apakah menjadi masalah bila isteri tidak bisa memasak?
20. Apakah boleh ada keluarga lain menumpang tinggal di rumah?

Privasi dan masalah
21. Bila ada masalah antara suami dan isteri, boleh atau tidak bercerita pada orang lain?
22. Apakah suka memeriksa ponsel dan sosmed pasangan?
23. Bagaimana pandangan pasangan tentang pernikahan?
24. Apakah penting menyediakan waktu khusus berdua dengan pasangan setelah menikah?

Mertua dan keluarga besar
25. Seberapa sering mengunjungi orang tua, mertua dan keluarga lainnya?
26. Apakah boleh memberikan bantuan kepada keluarga? Apakah akan memberi uang bulanan untuk orang tua dan mertua?
27. Bolehkah membantu biaya pendidikan saudara kandung?

Kehidupan sosial
28. Bolehkah setelah menikah jalan bersama dengan teman? Seberapa sering?
29. Bolehkah setelah menikah punya me time?
30. Komunitas apa yang bisa diikuti? Seberapa banyak?

Setelah melihat daftar pertanyaan ini, mungkin ada yang berpikir “menikah itu rumit”. Yes, ada kalanya memang terasa rumit. Tetapi pernikahan adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga layak untuk diperjuangkan. Oleh karena itu tak mengapa bila sebelum memulai sebuah pernikahan banyak hal yang harus dipikir matang. Better safe than sorry. Selamat menyiapkan pernikahan bagi yang sedang menyiapkannya. Semoga diberikan kelancaran. Dan bagi yang sudah menikah, mari kita beri ekstra “pagar” dan berhati-hati agar tidak “terpeleset”. Biarlah kita tunjukkan pandangan kita ke garis finish, dan mendapatkan medali dengan catatan “Setia sampai akhir”.

Salam.


-lyn- 



Pic source: freepik.com

Comments

Popular Posts