Rapuh yang Kau pilih
Menjadi manusia kuat dan hebat sepertinya impian banyak orang. Belakangan ini kita tidak asing dengan sebutan ‘pencitraan’. Menciptakan image diri agar terlihat kuat, terlihat hebat. Penilaian orang lain sangat berpengaruh. Berusaha agar terlihat kuat diluar namun ternyata dalamnya rapuh. Bila sudah kehilangan sumber yang menjadikan terlihat kuat akhirnya mudah ‘hancur’.
Dan ketika hidup kita sedang terpuruk, sangat mudah menghakimi diri sendiri. Mudah untuk membandingkan dengan hidup orang lain yang (kelihatannya) lebih baik. Mudah untuk denial dengan keberadaan diri sendiri yang sesungguhnya. Kita berusaha menghantam tembok-tembok pembatas untuk merasakan keadaan yang tidak ideal untuk kita.
Tahun 2014 sebuah badai menerpa keluarga saya yang ternyata masih berpengaruh pada kondisi mental saya hingga saat ini. Berkali-kali denial bahwa saya bisa kuat menjalani dengan kemampuan diri sendiri. Namun semakin saya denial, semakin diri ini menyadari bahwa saya sudah sangat rapuh.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Betul-betul diluar kuasa saya. Sekuat dan selama apapun saya mencoba bukannya berbuah manis malah semakin menyakitkan.
Saya memandang pada-Nya. Dalam diam ku dekap Dia. Air mata tidak terbendung lagi. Dia datang ke dalam dunia ini untuk menyembuhkan hati yang rapuh. Rapuh yang Dia pilih. Selama ini Tuhan tidak bekerja karena saya menghalangi-Nya. Saya berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Dia tidak memaksa. Dia sabar menunggu hingga akhirnya saya mengakui bahwa sesungguhnya saya rapuh. Life is so fragile. Only God’s love can handle it.
Sudah cukup menghantam temboknya. Mari berpengharapan dalam ucap doa. Sambil beri batas sampai dimana hati dan pikiran ini boleh terbebani. Mari berhenti menyuapi diri dengan hal yang berbau sempurna. Sad but true, itu tidak ada. Semua dibuat seimbang oleh Pencipta.
Tidak ada keluarga yang sempurna namun kasih Tuhan yang akan menyempurnakannya. Remember that we are only human. It’s ok to have meltdown. Just don’t live there too long. Rise and shine again! God loves you so much!
Selamat Paskah, Tuhan Yesus memberkati.
With love,
Lyn.

Great and so touching post, Lyn. May God strengthen you, always πͺππππ
ReplyDelete