Sesudah Punya Anak

Trigger menulis post ini adalah percakapan dengan seorang teman; seorang ibu dengan dua anak laki-laki, kemarin, di siang hari yang mana kepala saya lagi cenat-cenut memikirkan baby sitter anak yang akan berganti LAGI. OH MY...drama baby sitter yang selalu challenging. Jadi kemarin kami ngobrol tentang keadaan rumah yang sukar rapi saat punya anak terutama usia bayi-toddler. Bisa rapi tanpa ada barang yang berpindah adalah mission impossible. Remote AC ada di rak sepatu, kunci rumah di bawah kolong meja, atau lipstick ada di tumpukan baju di dalam lemari. Makanya selalu kagum (tapi kebanyakan iri sih, LOL) sama rumah-rumah yang biasa seliweran di Instagram. Duh, ciamik itu dekoarsinya. Enak dilihatnya. Bermimpi kapan ya dekorasi rumah bisa secantik itu. Kemudian sayup-sayup terdengar "in your dreams" HAHA. Tapi teman memberi kalimat penguatan, "kalau rumah berantakan, itu tanda ada kehidupan dan itu bagus". Ahhhh, lopyuuu Teh Rina. Makasiiihhh sudah menghibur.

Ini baru soal kerapihan rumah lho ya. Masih banyak kehebohan lain setelah punya anak. Apa itu?

(Drama) baby sitter. Makanya kalo ngga mau drama, ya jangan pake baby sitter dong. Kenapa juga pake baby sitter. Ibu itu kodratnya urus anak. Dulu, jujur, sempat negative thinking dengan baby sitter. Mungkin karena sering dengar hal yang kurang baik tentang BS. Sebelum memutuskan memakai jasa mereka, ada pergumulan panjang. Menimbang baik dan buruknya. Belum lagi dari keluarga atau kerabat sering menakut-nakuti. Kalo pake baby sitter, nanti bayinya dikasih obat tidur. Nanti anaknya jadi lebih lengket sama nannynya. Baby sitter banyak yang jahat, suka ngambil barang atau uang. Ini baru sedikit yang dulu sering dikatakan ke saya. Jadi sekarang mau bilang, guys, please stop menakut-nakuti. Apalagi kalau kalian sendiri belum mengalami. Mungkin juga kalian hanya mendengar kan. Karena mostly yang bilang ke saya itu belum menikah dan belum pernah memakai jasa BS. Kan miris. Saya mau cerita pengalaman soal baby sitter ini. Jadi pertama kita searching dulu mau pakai BS dari yayasan atau tenaga penyalur. Bedanya apa? Satu, beda di keterampilan dan pengalaman kerja. Kalau dari yayasan, mereka dapat pelatihan dulu sebelum bisa bekerja. Dan biasanya yang ditawarkan ke kita yang nyari apalagi untuk bayi adalah mereka yang sudah berpengalaman. Kontrak kerja jelas. Kalau dari tenaga penyalur, mereka jarang dapat pelatihan. Kalau mujur ya dapat yang bagus kerjanya. Dan juga jarang ada kontrak kerja. Beda kedua, soal gaji. Kalau dari yayasan, gajinya lebih tinggi dibanding tenaga penyalur. Hampir dua kali kali lipat bedanya. Saya pernah pakai dua-duanya. Saya cenderung memilih tenaga dari yayasan. Beda hasil kerjanya. Setelah dapat tempatnya, sekarang waktunya menghubungi, bertanya apakah ada tenaga BS yang siap bekerja. Di tempat yang saya pilih, kita kadang waiting list. Harus menunggu karena kadang tidak ada. Dan kita ngga bisa maksa supaya segera ada. Disuruh sabar menunggu apalagi bila ada permintaan khusus, misalnya ingin orangnya seperti apa, sukunya apa, agamanya apa. Mulai terasa kan ribetnya. Setelah ada ngga bisa juga langsung oke. Diminta datang dulu ke tempatnya buat interview. Pihak yayasan mau kenal kita dan kita pun diminta untuk kenalan sama calon BS termasuk bicara soal gaji dan kontrak kerja. Di saat ini lah kita sebagai pihak yang akan mempekerjakan harus pake insting juga untuk menilai. Dengar kata hati. Kalau ngga sreg, kita sangat berhak menolak kok. Minta ketemu sama calon lain. Jangan datang sendiri. Bagusnya berdua sama pasangan atau orang tua. Biar dapat insight berbeda. Nah, kalau oke gimana? Ya lanjut tanda tangan kontrak kerja. Mulai bisa kita pakai jasa BS-nya. Sudah selesai? Oh tentu saja belum. Dari pihak yayasan akan beri kita waktu selama sebulan untuk merasakan jasa BS yang kita ambil. BS-nya pun selama sebulan diberi kesempatan merasakan kerja sama kita. Macam magang. Kalau kita ngga sreg, boleh ganti dan tidak ada biaya tambahan. Jadi sewaktu kita sepakat sama pihak yayasan ada sejumlah uang administrasi yang harus kita bayar. Bila dalam sebulan kita minta ganti, tidak usah membayar biaya administrasi lagi. Tapi kalo lewat dari sebulan harus bayar. Demikian juga dengan pihak BS-nya bila merasa tidak nyaman kerja dengan kita, mereka berhak berhenti, kembali ke yayasan. Tapi kalau dua-duanya cocok, syukurilah. Karena menemukan baby sitter yang sesuai harapan tidaklah selalu mudah. Dan tidak semua yayasan itu bagus. Harus rajin baca review dan tanya-tanya.  Dari cerita lumayan panjang ini ada yang ingin kusampaikan, stop judge ibu-ibu yang akhirnya memakai jasa baby sitter. Dibalik keputusan mereka itu tersimpan alasan dan proses yang tidak mudah. Kalau kalian dapat kemudahan mengasuh anak misal orang tua yang bersedia membantu mengasuh anak, punya keluarga atau kerabat yang mau (dengan tulus ikhlas) dititipi anak kita, ketemu daycare yang oke, atau kalian sendiri bisa mengasuh anak 24 jam sehari 7 kali seminggu, bersyukurlah. Tidak semua dapat privilege seperti kalian. Punya baby sitter juga bukan berarti bisa santai kok. Misal nih ya, jalan ke mall mau beli sesuatu. Bawa baby sama nanny karena mau juga jalan-jalan sama anak. Idealnya, baby di stroller, nanny bantu dorong stroller, kita belanja dengan tenang. Kenyataannya? Baru juga 5 menit di stroller, baby-nya rewel, ngga mau di stroller maunya digendong. Oke digendong kan ya. Kita langsung gendong duluan sebelum nanny. Pas baby-nya sudah tenang kita kasih ke nanny buat tolong gendong. Kita mau fokus belanja. Baru juga 10 menit jalan, baby-nya rewel lagi karena di mall berisik. Kita sama nanny coba tenangkan malah semakin rewel. Solusinya? Pulang ke rumah, coy. Belanjanya? Belum selesai. Jadi? Aku ra opo-opo. LOL.

Makan dengan tenang. Idealnya, misal lagi makan di restoran, ayah, ibu dan anak masing-masing duduk menikmati makanan masing-masing. Ayah dan ibu pelan-pelan makan, menikmati suap demi suap sementara anak juga anteng duduk makan. Kenyataannya? Baru 5 menit duduk, anak sudah lari. Segala sudut restoran dilihat. Menyapa semua orang di meja sebelah. Ayah dan ibu ganti-gantian makan. Dan ngga bisa makan cantik. Harus kunyah cepat trus lanjut jaga anak gantian sama pasangan. Belum lagi usaha supaya anak habiskan makanannya. Dikejar, dipegang, disuap, lari lagi, dikejar lagi. Mulut anak masih penuh makanan belum dikunyah karena sibuk lari. Lari lagi, dikejar lagi, disuapi lagi. On repeat. Jadi bisa makan dengan tenang bersama bayi atau toddler adalah kemewahan.

Kebutuhan anak tidak murah. Idealnya kita mau berikan yang terbaik buat anak kan. Konteksnya ini tentang perlengkapan anak. Sebelum punya anak saya ngga tahu toko Mothe****e, toko E*C, toko To*******om. Sekarang saya suka mengecek ketiga toko ini. Sok amat sih, pilih toko-toko yang mahal. Bukan mau sok, tapi mari akui, bisa beli barang buat anak dari brands itu bahagianya beda kan? Ha ha. Dan ya memang kualitasnya bagus. Sayang, harganya yang kurang bagus buat dompet. Jadi saya menunggu hingga waktu diskon, LOL. Jadi kalau ditanya mengapa saya bekerja? Supaya keluarga kami bisa leluasa secara finansial, hingga kebutuhan sekunder semacam membeli barang-barang yang kualitasnya bagus walau mahal bisa kami wujudkan walau tidak selalu. Sesekali bisa berlibur nantinya. Bisa menabung buat dana pendidikan anak dan masa tua. Hidup bukan hanya kadang ribet ya manteman tapi juga tidak murah. Mari semangat kerja demi keluarga.

Samenjak punya anak saya belajar menyederhanakan masalah. Dulu kerap overthinking. Kalau sekarang mah let it be saja. Terpenting, mengurus keluarga; suami dan anak lalu mengerjakan tanggung jawab pekerjaan. Selain itu kalau bisa dilakukan ya dijalani, kalau tidak ya sudah tak mengapa. Layani terlebih dahulu keluarga kita setelah itu baru bisa melayani keluar rumah. Jangan terbalik. Salam hangat buat anak-anak kalian ya.


Comments

Popular Posts