Uang Sekolah Anak

Ada sebuah email masuk yang menarik perhatian saya hari ini. Berisi undangan menghadiri open house sebuah sekolah. Selama ini saya belum pernah mengikuti open house sekolah manapun. Juga belum menentukan tempat menyekolahkan anak kelak. Pilihan sekolahnya sudah ada. Tapi sedih karena sekolah incaran jauh dari tempat tinggal kami. Kami tidak ingin egois menyekolahkan anak di tempat yang jauh walaupun kami tahu sekolah itu bagus. Ada sekolah dekat rumah namun sejujurnya hati kami tidak 100% sreg. Tapi tetap kan ya, kasihan anak bila menempuh jarak jauh ke sekolah. Belum lagi macetnya. Perkara sekolah ini membuat saya dan suami cukup pusing. Karena kami sadari pendidikan itu salah satu bekal penting untuk masa depan anak.

Biar bisa tenang memilih sekolah buat anak sebenarnya hal mendasar yang perlu disiapkan adalah dananya. Betul? Sudah angan-angan ingin menyekolahkan anak di sebuah sekolah tapi kepentok karena ternyata uang pangkalnya mahal. Bukan sekali dua kali saya mendengar cerita teman yang kaget dengan mahalnya uang sekolah. Sekalipun berniat ingin menyekolahkan anak di sekolah negeri, bagi saya tetap penting menyediakan dana pendidikan. Kan sedih ya, sebenarnya bisa nabung buat uang sekolah di sebuah sekolah impian tapi harus buyar karena tidak cukup punya waktu buat nabung. Kualitas sekolah sudah bagus trus jarak ke sekolah juga dekat, eh pas lihat uang pangkalnya mundur karena tabungan tidak cukup. Dan kita tahu bersama biaya pendidikan di Indonesia tinggi. Yang saya baca dari hasil statistik, inflasi dana pndidikan di Indonesia yaitu 15-20%. WOW. SUNGGUH WOW. Dengar-dengar sekalipun sekolah negeri juga lumayan mahal uang sekolahnya ya? Dana BOS katanya juga tidak transparan?. Inflasi ini nyata. Walaupun angka inflasi untuk bahan makanan pokok itu rendah (saya lupa kisarannya berapa, bisa cari di Google, pemerintah kita sepertinya sudah merilis angkanya) , tapi inflasi untuk dana pendidikan, transportasi atau harga perumahan itu terasa.

Secara  pribadi saya berpendapat, sebagai orang tua yang bisa kita lakukan untuk "melawan" inflasi dana pendidikan anak adalah dengan menabung dan berinvestasi. Mumpung mau tahun baru, yuk mari kita buat resolusi menyiapkan dana pendidikan anak. "Wah gimana tahun depan anak saya sudah sekolah. Ngga cukup waktu". No dear, untuk sesuatu yang baik tidak pernah ada kata terlambat. Kalau jaraknya sudah dekat, bisa pilih tabungan berjangka. Alihkan dulu dana-dana entertainment pribadi (nge-cafe, kongkow, nonton bioskop, belanja) ke tabungan berjangka tiap bulannya. Misal dalam sebulan biasanya nonton 3-4 kali, kurangi jadi sekali saja dulu. Dan untuk tabungan juga harus punya target. Cara tahu targetnya bagaimana? Dengan cari tahu berapa kisaran uang sekolah anak. Misalnya seperti ini, butuh 10 juta untuk uang pangkal SD. Kalau mulai awal tahun 2019, berarti kita punya waktu sekitar 15 bulan untuk menabung. Tapi 10 juta itu angka untuk tahun 2018 kan? Anak kita sekolahnya nanti pas 2020. Jadi melewati 2 tahun kenaikan inflasi. Kita ambil angka inflasi tertinggi 20%. Karena melewati 2 tahun, berarti 10 juta + 20% + 20% = sekitar 14 juta untuk tahun 2020. 14 juta dibagi 15 bulan = 900 rb menabung tiap bulan. Wah besar ya? Iya karena jangka waktunya singkat. Tapi misal dimulai lebih awal, misal pas anak umur 0 tahun, jangka waktu menabung untuk SD ada 6 tahun. Pasti lebih ringan.  Bila punya beberapa pilihan sekolah, ambil yang biayanya paling mahal supaya bisa leluasa memilih sekolah untuk anak nantinya. Ini kan hanya untuk uang pangkal, lalu untuk biaya bulanannya bagaimana? Kalau dirasa nanti akan mengganggu cashflow, lebih baik disiapkan juga. Misalnya selama anak belum sekolah, anak masuk daycare atau dijaga oleh BS yang mana biayanya lebih mahal dari biaya bulanan sekolah. Nanti ketika anak sekolah kita sudah tidak menggunakan daycare atau BS, biayanya dialihkan ke uang sekolah anak kan? Berarti tidak akan mengganggu cashflow (malah mungkin lebih), jadi cukup siapakan uang masuk sekolah. Kalau pakai asuransi pendidikan bagaimana? Sebaiknya jangan. Kenapa? Karena asuransi itu tujuannya untuk proteksi sesuatu yang belum pasti. Sementara pendidikan kan sesuatu yang pasti. Umur 5 tahun masuk TK. Umur 7 tahun masuk SD, dst. Pendidikan di negara kita kan juga peraturannya pasti. Kecuali kalau homeschool, beda cerita. Dan asuransi pendidikan biasanya gabung dengan tujuan lainnya, tidak pure uang sekolah. Macam unitlink gitu. So, pilih yang benefitnya memang seutuhnya untuk uang sekolah.

Untuk pilihan tabungan dana pendidikan anak banyak kok. Tinggal menyesuaiakan dengan kebutuhan dan kemampuan tiap bulannya. Saran, pilih tabungan berjangka biar tidak tergoda ngambil. Kadang kala ada keinginan yang dirasa kebutuhan akhirnya menjadi alibi untuk belanja padahal tidak butuh. Kerap terjadi pada saya, hu hu. Atau kalau sudah punya dana tertentu dan ingin itu jadi tabungan dana pendidikan anak, boleh langsung bukakan deposito. Walaupun menurut financial planners, tabungan dan deposito tidak bagus dipakai melawan inflasi, buat saya masih sangat layak kita lakukan. Setidaknya kita bisa berlatih konsisten menabung. Untuk dana pendidikan yang masih banyak rentang waktunya misal SMP, SMA atau kuliah, disarankan berinvestasi pada reksadana (RD ini ngikut inflasi), saham, sukuk ritel, ori. Investasi ini belum saya lakukan karena belum dipelajari dengan baik. Sebelum investasi, pelajari dulu dengan sebaiknya-baiknya. Pilihlah instrumen yang imbal hasilnya bisa mengimbangi inflasi, syukur-syukur kalau bisa melebihi. Nanti ya, saya belajar dulu sama pak suami tentang macam-macam investasi ini. Akan saya tuliskan di blog di lain waktu.

Berat ya tulisan kali ini? Sengaja, biar saya tidak pusing sendiri, ha ha. Kalaupun mau dibilang, sudahlah santai saja, rejeki mah ada saja nanti. But, do we really know what future hold? Ya, kalau kita kaya tujuh turunan ya tidak apa-apa. Butuh uang ya sudah ada. Bahkan kalau bisa sekolahnya dibeli sekalian mah bisa, ya ngga usah capek mikir uang sekolah.  Tapi kalau kita termasuk golongan yang ngoles Nutella di roti tipis-tipis biar ngga cepat habis, ya kita butuh menabung.

Tapi kalau harus disiplin menabung tiap bulan, trus kapan beli lipsticknya, Marimar? Tenang, segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu buat menabung, ada waktu buat yuk kita shopping. Kapan itu? Boleh baca tulisan berikutnya, judulnya "THR, untuk apa?'

Salam hangat buat anak-anak kalian ya.


Comments

Popular Posts