Memanfaatkan Privilege
pic from google
Salah satu tantangan menulis yang mana tulisan tersebut akan dipublikasikan adalah memilah tema tulisan. Sebulan ini berkutat dengan sebuah tema. Maju mundur, pikir-pikir apakah layak tulisan ini saya publish. Akhirnya memilih menyimpannya di draft. Biarlah bertengger di sana saja. Kebebasan mempublish ternyata juga privilege ya, ha ha.
Wokeh, ngomong soal privilege, kalian ada yang mengikuti berita tentang aktris Maudy Ayunda berbagi di akun Instagram-nya bahwa dia diterima buat lanjut kuliah di 2 universitas: Harvard dan Stanford. KEREN! Cantik, multitalenta, pintar dan punya good attitude. Doi lagi galau mau pilih yang mana. Ini yang dinamakan galau berkelas. LOL. Bukan galau ala ibu-ibu macam saya yang bingung mau masak apa hari ini.
Kebetulan saya memfollow akun Instagram-nya Maudy. Dari berbagai postingan-nya boleh saya katakan, maaf tanpa mengurangi rasa kagum saya, Maudy bisa jadi seperti sekarang ini karena dia punya privilege. Lahir dari keluarga yang berada. Saya yakin pula orang tua Maudy sangat well-prepared soal pendidikan Maudy. Maudy bisa diterima di Oxford (S1-nya di sana gengs), karena didukung latar belakang sekolah-nya. Doi dulu SMA-nya di British International School. Beda sama kita-kita, kita? elo aja kali, sekolah di SMA negeri yang tiap pulang sekolah harus panas-panasan menunggu angkutan umum dan menghirup debu-debu manja knalpot kendaraan. Uhuk.
Kok situ jadi julid?. No, saya tidak julid cuman mau bilang kalau harus diakui sebagian orang memang punya privelege yang bisa mendukung terciptanya keberhasilan. Dan itu tidak salah. Rejekinya begitu. Kemudian saya berpikir, sebenarnya bukan karena kita punya privilege atau tidak yang menentukan keberhasilan kita. Tapi daya juang. Maudy walaupun punya seabrek privilege tapi kalau doi tidak berusaha juga ya tidak akan jadi seperti sekarang ini.
Ada sebuah cerita, alkisah seorang tuan mempunyai tiga hamba. Suatu waktu, tuan ini hendak berpergian cukup lama. Lalu dia memberikan keping emas kepada masing-masing hambanya agar mereka mengusahakannya. Hamba pertama diberi lima keping emas. Hamba kedua diberi tiga keping emas dan hamba ketiga diberi satu keping emas. Setelah sang tuan pergi, maka bergegaslah masing-masing hamba ini berusaha. Hamba yang pertama dan kedua merasa keping emas yang mereka peroleh sudah banyak, sehingga mereka bekerja secukupnya saja. Namun hamba yang ketiga merasa sedih karena hanya satu keping emas saja yang dia peroleh. Dia menyadari apa yang dia punya tidak banyak. Hal ini memotivasi dirinya bekerja keras. Tanpa terasa kerja kerasnya berbuah manis. Sang tuan pun kembali lalu memeriksa hasil pekerjaan mereka. Hamba pertama dan ketiga mendapatkan untung 1x lipat dari jumlah keping emas yang diberikan oleh san tuan. Sedangkan hamba ketiga karena kerja kerasnya, mendapatkan untung 100x lipat. Sang tuan sangat terkesima dengan hasil keuntungan hamba ketiga. Lalu sang tuan mempercayakan seluruh hartanya dikelola oleh hamba ketiga.
Based on the story, i want to say that when we are less privileged, we surely need to work harder. Tidak masalah kalau orang lain punya privilege tapi kita tidak. Selama kita berusaha pasti ada jalannya. Tapi kalau kebetulan kita adalah orang yang punya privilege, belajar dari Maudy cara dia mengoptimalkan semua "kemewahan" menjadi sesuatu yang berguna.
Bagi saya, salah satu privilege yang saya punya adalah nafas hidup dan kesehatan yang masih ada sampai sekarang. Makin kesini makin bersyukur kalau tiap hari masih bisa bangun dan punya badan yang sehat. Yang jadi pe-er karena belum kembali rutin olahraga. Supaya badan sehat kan harus juga rajin olahraga dan jaga asupan makanan. Dan jaga juga kesehatan mental. Sekarang ini kita hidup di society yang full pressure. Harus begini, harus begitu. Harus ikut ini, harus ikut itu. Gengs, ekspektasi orang lain itu tidak wajib dipenuhi dan tidak semua omongan orang harus dimasukkan hati. Seperti lagu "karena ku selow, sungguh selow, sangat selow, tetap selow, santai..santai.."
-lyn-

Comments
Post a Comment