Yang Terpajang di Sosial Media (Sahabat #2)






Yellow coffee cup on table


Ruas jalanan Sudirman sore ini cukup padat. Aku baru ingat hari ini Jumat. Apalagi hujan mengguyur cukup deras dari semalam. Aku pasrah menghadapi kepadatan jalanan. Semoga kedua temanku, Sita dan Rima, belum sampai juga di sebuah kedai kopi tempat kami janjian bertemu. 

Akhirnya aku tiba. Ah, tapi aku lupa membawa payung. Aku berlari kecil masuk. Ternyata kedua temanku sudah tiba.

“Maaf ya, jalanan macet banget.” 

“Ngga apa-apa kok, By. Kami juga baru tiba. Eh, mau pesan apa?”

Kami memesan cappuccino panas dan egg-tart. Masing-masing kami bahagia bisa bertemu. Maklum, semenjak lulus kuliah lalu bekerja kami kesulitan mengatur waktu untuk bertemu.

“Aku baru lho mampir ke tempat ini. Keren ya. Instagramable trus lighting-nya bagus. Yuk, foto dulu!” Aku langsung cepat menyalakan handphone dan bersiap foto bersama kedua temanku.

“Eits, jangan diminum dulu dong. Foto dulu demi konten Instagram”.

“Tapi aku haus, By.” 

“Yah elah bentar. Sabar dulu.
 
“Libby, Libby… kamu ngga berubah ya. Yang penting bukan yang terpajang di Instagram, By” tutur Sita.
“Kita ketemuan ini susah banget lho. Udah dari 2 bulan lalu kita janjian. Baru sempat hari ini” lanjut Sita.

“Buat apa sih By, kita keliatan good di sosial media tapi ternyata ngga. Yang penting apa yang kita jalani tiap hari. Seperti ini. Kita ketemuan, ngobrol, ketawa. Tapi ngga wajib deh kita publikasikan setiap hal yang kita buat ke orang lain” timpal Rima.

“By, kami ngga peduli kalau foto kami ada di Instagram kamu. Kami lebih peduli sama kehadiran kamu” sahut Sita sungguh-sungguh.

Aku menyimpan handphone-ku dalam tas. Pertemuan dengan kedua sahabatku lebih penting dari upload beribu foto di sosial media.

-lyn-
 
























Comments

Popular Posts