Saat Pensiun nanti
Terkadang menyimak hal-hal yang sedang ramai dibicarakan membawa kita memikirkan hal lainnya. Seperti yang baru saja hangat tentang gaji ratusan juta sebulan. Dengan gaji yang terbilang tinggi tersebut, gaya hidupnya pasti bukan yang sederhana.
Ngomongin gaya hidup, dulu saat fresh graduate lalu bekerja dan mendapatkan gaji, saya rasanya ingin selalu menghabiskan gaji haha. Sebelum bekerja, jajanan mewahnya bakso. Setelah bekerja meningkat tuh jadi pizza he he he. “Ya iyalah masak ngga boleh menikmati uangku. Kan sekarang saya sudah punya penghasilan”, pikirku kala itu.
Namun sekarang setelah sedikit belajar tentang financial planning mulai terbuka pikiran ini. Bahwasanya menjaga gaya hidup ada hubungannya dengan bagaimana kita menghadapi masa pensiun nanti.
Masa kerja kan sampai usia 55 atau 56 tahun ya. Bila Tuhan berkenan misalnya kita diberi hidup sampai umur 80 tahun, berarti akan ada 25 tahun kita hidup tanpa gaji bulanan. Note: Terkecuali kalau ada usaha atau bisnis yang sudah disiapkan untuk masa tua. Ini hal yang berbeda ya. Bagaimana kita menjalani 25 tahun itu? Oke mungkin ada pesangon atau uang jaminan hari tua. Tapi apakah kita bisa pastikan itu cukup?
P.S. Saya sebetulnya malas juga memikirkan hal ini haha. Soalnya bahasan financial planning seringkali buat dahi berkerut. Tapi katanya sedia payung sebelum hujan supaya tidak kehujanan nantinya.
Jadi intinya menjaga gaya hidup itu penting supaya nanti di masa pensiun tidak kaget bila gaya hidup harus turun. Baiknya entah gaya hidup naik atau turun, kita bisa menyesuaikan.
Artinya kita ngga bisa naik gaya hidup ya? Kalau itu ditanyakan kepada saya jawabannya boleh. Cuman sekarang ada kesadaran yang mengikut. Misalnya dulu ada mau beli jam tangan incaran masih pikir-pikir. Sekarang setelah gaji meningkat, bisa langsung beli tapi ada kesadaran penuh bahwa mungkin tidak selamanya bisa seperti ini. Bila misalnya tidak mendapat gaji bulanan seperti biasa, apakah mampu menurunkan gaya hidup?
Bila saat ini masih diberikan berkat, masih mampu hidup sehari-hari dari gaji atau dari pendapatan lainnya, lebih baik menaikkan kualitas hidup daripada gaya hidup. Bila ada hutang-hutang konsumtif, baiknya dilunasi. Tingkatkan skill, kembangkan kemampuan diri semampunya. Bila gaji naik, tahan agar gaya hidup tidak ikut naik.
Paling penting kalau mau naikkan gaya hidup bukan karena demi dianggap sukses oleh orang lain. Tapi karena memang kita sudah siap untuk itu baik di masa sekarang dan masa depan nanti.
With love,
Lyn.

Comments
Post a Comment