Rupa-rupa Investasi


Stack of coins over the invest wooden blocks near the house model with silver keys on white surface Free Photo

Beberapa waktu lalu di Instagram sempat membaca postingan akun Jouska tentang korban investasi. Bentuk investasinya koperasi dan trading forex dengan penawaran fix return 14-24% per tahun. Investasi bodong? Entah. Namun melihat penawaran fix return-nya hingga 24% tahun, tidak heran banyak yang tertarik.

Lalu saya teringat pernah berjanji di tulisan ini Uang Sekolah Anak  untuk mengulas tentang investasi. Dulu semasa single masih sebatas tahu sedikit serba serbi keuangan dan investasi namun tidak bergerak haha. Sempat tergerak namun mundur. Seingat saya karena dulu tuh sok mau pake jasa financial planner. Begitu tahu biaya jasa financial planner mundur teratur. Walaupun saya sadari, biaya jasa memang tidak murah. Cuman saat itu merasa sayang keluarkan sejumlah uang  yang terasa mahal buat saya. Nah setelah menikah, setelah menciptakan tujuan-tujuan baru bersama suami, akhirnya beneran sadar bahwa perlu berstrategi secara financial untuk sampai di tujuan-tujuan itu. 

Kalau ngomong soal investasi, umumnya kita kenal ada tiga: deposito, obligasi dan saham. Disclaimer saya bukan pakar keuangan. Saya masih belajar, bila ada koreksi mohon tinggalkan di kolom komentar  ^_*. Investasi beda dengan menabung? Beda walaupun mirip. Bedanya kalau investasi muncul karena adanya tujuan. Misalnya nih, mau persiapan dana kuliah anak, dana liburan, dana nikah, dana beli rumah atau dana pensiun. Selain berdasarkan tujuan, investasi juga punya jangka waktu. Kalau nabung kan suka-suka kita ya mau nabung berapa lama dan bebas diambil kapan pun.

Kuy, kita lihat satu per satu mulai dari investasi yang punya resiko terkecil:

1. Deposito

Pasti udah tau ya deposito itu apa. Ini berupa tabungan dengan jangka waktu tertentu di bank. Kalau kalian buka deposito nantinya dapat bilyet deposito. Hasil investasinya kecil, kisaran 0,5 – 0,9 % per bulan tergantung nominal yang kita setor. Dan bunganya beda ya menurut nominal. Pasti bunganya beda deposito 25 juta dengan 1 milyar misalnya. Deposito ini investasi dengan resiko teraman namun keuntungan terkecil. Minimal nomimal untuk deposito 8 juta dengan pilihan waktu 1, 3, 6, 12 bulan.

2. Obligasi

Obligasi mirip dengan deposito tapi bukan produk bank. Obligasi ini kita dapat dari perusahaan. Jadi misal ada sebuah perusahaan butuh dana. Tapi kalo minjam dari bank kan bunganya besar. So, kumpul dananya dari perorangan. Perusahaan ini berhutang ke investor perorangan. Kalo pinjam di bank  misal tiap tahunnya harus bayar hutang dengan bunga 12% tapi di perorangan hanya 8%. Kita sebagai perorangan dapat untung dari bunga yang dibayarkan itu. Tidak sama dengan deposito, jangka waktunya lebih lama minimal 1 tahun. Oiya harus benar-benar selektif pilih perusahaannya ya, jangan sampai hanya fiktif. Umumnya obligasi ini dipilih oleh perorangan dengan modal besar.

3. Saham

Saham sering kita dengar juga ya kan. Selain melalui obligasi, perusahaan bisa dapat tambahan dana dengan menjual sebagian kepemilikannya yang kita kenal dengan saham. Jadi misal kita beli saham sebuah perusahaan artinya kita punya andil kepemilikan di situ. Asiiikkk. Itu untungnya. Resikonya apa? Susah senang ditanggung bersama.  Kalo perusahaan lagi untung ya kita untung. Kalo lagi merugi ya kita ikut rugi. Makanya dari ketiga jenis investasi, saham ini punya resiko terbesar. Kalau mau investasi di saham, disarankan harus benar-benar mengerti tentang saham dan ikut langsung maintenancenya.

Kembali pada postingan Jouska yang saya sebutkan di awal, Jouska katakan bahwa korban investasi adalah orang-orang yang terobsesi dengan konsep duduk diam lalu uang datang. Tidak memantau. Ya memang sih, pasti banyak yang memilih tidak repot tapi return besar hehe.

Lalu bagaimana bila kita tertarik berinvestasi tapi dengan modal yang minim dan waktu terbatas? Maka terciptalah sebuah produk bernama reksadana. Sering dengar? Jadi reksadana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari perorangan kemudian dinvestasikan oleh manajer investasi. Jadi si manajer ini secara kolektif kumpulin dana lalu dia ngolah dengan jalan menempatkannya pada salah satu bentuk investasi. Kita cukup daftar, setor uang, tentukan reksadana pilihan kita, diolah sama manajer investasi, kita dikasih laporannya lalu mendapat return. Beli dimana reksadana? Bisa di bank dan agen penjual yang telah berizin serta terawasi oleh OJK. Koinworks, Bareksa, MNC; contoh pilihan tempat berinvestasi. Reksadana ada beberapa macam:
1. rd pasar uang misal deposito
2. rd pendapatan tetap: sukuk, sbn, obligasi pd perusahaan bumn dan swasta
3. rd saham: saham-saham
4. rd campuran: campuran dari 2 atau 3 jenis saham di atas

Reksadana pasar uang biasanya ditempatkan di deposito. Hasilnya lumayan cepat dan minim resiko. Reksadana jenis ini cocok bagi pemula. Jangka waktunya pun cepat, biasanya setahun. Cocok untuk rencana jangka pendek, misal liburan. 

Reksadana pendapatan tetap penempatannya pada obligasi. Jangka waktunya menengah, biasanya 3 tahunan. Cocok untuk investasi misal dana pendidikan anak atau renovasi rumah. Keuntungan tergantung naik turunnya BI rate. Tapi untungnya lebih tinggi dari pasar uang.

Reksadana saham seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Penempatannya di saham-saham perusahaan. Kalo milih investasi di reksadana jenis ini, pilih perusahaan yang bagus-bagus macam Unilever, Pertamina, BRI, dsb. Pilih reksadana ini untuk tujuan panjang misal untuk dana pensiun.

Reksadana campuran merupakan perpaduan dari 2 atau 3 macam reksadana. Oleh manajer investasi akan diatur. Jenis ini returnya lebih besar dari pasar uang dan pendapatan tetap namun resiko tidak sebesar saham. Jadi ditengah-ditengah. Bagi pemula bisa mengambil reksadana jenis ini selain pasar uang.

Wow sudah 888 kata. Semoga penjelasannya bisa membantu ya. Pilih investasi sesuai kebutuhan dan kemampuan. Tidak berinvestasi pun tidak apa-apa. Bebas kakaaa. Walaupun penting menabung dan berinvestasi demi masa depan, jangan lupa untuk tetap menikmati hasil kerja. Seimbangkan. Kalo kata salah satu financial planner, hiduplah sadar dan bijak.


Picture source: freepik.com



-lyn-



Comments

Popular Posts