Enoy Tanpa Gadget
Sekitar tiga bulan lalu saya periksa mata. Sudah setahun belakangan saya menggunakan kacamata. Bukan karena minus tapi plus. Kata dokter salah satu penyebab mata plus karena kebanyakan menatap layar komputer, televisi atau handphone. Jadi mata kebanyakan fokus di titik tertentu. Pas periksa mata pertama kali, dokter memberi saran bila sering bekerja menggunakan komputer atau laptop, harus rajin beri jeda kemudian pijit daerah sekitar mata. Dokter, sebenarnya hal ini sudah lama saya tahu cuman saya malas ha ha. Penyesalan datang belakangan, pakai kacamata deh. Pulang dari dokter masih terngiang "kalau semakin malas jaga mata bisa jadi plus-nya tambah". Mulailah bertekad lebih peduli sama kesehatan mata. Mengurangi menatap layar handphone lama-lama, sering mengedipkan mata, rajin pijit area sekitar mata dan yang paling niat pasang alarm tiap kali mengetik di laptop. Wow, niat banget sist!. Jadi set alarm sejam sekali. Begitu alarm bunyi, mau ngga mau saya harus berhenti kemudian melihat ke berbagai arah sambil kedip-kedip mata. Ternyata hal sepele ini susah dilakukan. Apalagi kalau sudah asyik mengetik atau dikejar deadline. Tapi ya ngga mau juga mata semankin tambah plus-nya. Kadang berusaha menghibur diri "Eh tapi tambah kece deh kalau pakai kacamata" (iya kece dilihat dari lubang sedotan). Tapi buat apa kece kalau ngga cocok. Sama seperti pakaian. Misal, ada yang cocok dibadan kalau pakai rok pendek, ada yang tidak. Karena ternyata saya ngga nyaman pakai kacamata. Kalau ada yang betah, ya berarti nyaman. Masing-masing orang beda. Nah ketika periksa mata tiga bulan lalu itulah perjuangan saya membuahkan hasil. Plus mata berkurang setengah. Yay!. Senaaaaannnngggg. Walaupun masih menggunakan kacamata tapi penglihatan rasanya jadi lebih baik. Wajib ini perjuangan dilanjutkan haha.
Masalah datang ketika menyadari anak saya, panggilannya Enoy, mulai sering nonton Youtube di handphone. Ini salah saya dan pasangan karena menjadikan Youtube sebagai penolong. Penolong disaat kami lelah menjaga atau menemani Enoy main. Jangan ditiru ya. Kalau bosan main, Youtube lagi. Kalau lagi bengong, Youtube lagi. Mau me time sebentar, kasih nonton Youtube. Mati gaya, Youtube lagi. Youtube jadi pelarian. Saya denial terus-terusan, "Ah, ngga apa-apa", "Lagian diawasi kok nontonnya", "Ngga, ngga akan kenapa-kenapa matanya. Masih kecil juga, matanya masih ok bingit lah". Akhirnya Enoy apa-apa maunya nonton Youtube. Dia mengidolakan Youtube.
Saya bilang ke suami, ini ngga baik. Enoy mulai addicted sama Youtube. Mainan dan kegiatan Montessori diacuhkan sama dia. Dan kami sama-sama sadar, terlalu banyak terpapar screen handphone tidak baik untuk kesehatan mata. Kami sepakat Enoy harus detoks gadget.
Detoks gadget Enoy kami mulai hari Minggu sepekan lalu. Dua hari sebelumnya, kami mulai sounding. "Enoy, nanti hp-nya mommy pinjam ya", "Enoy nanti ngga bisa sering nonton Youtube ya". Kalau dipikir kenapa bisa Enoy berkenalan dengan Youtube, karena dulu saya berikan supaya dia mau makan dengan tenang. Ada masanya Enoy GTM. Sungguh, masa GTM itu cobaan berat bagi ibu-ibu. GTM ialah singkatan dari gerakan tutup mulut alias anak ngga mau makan. Sekedar fyi buat yang mungkin belum tahu. Youtube penolong kala itu supaya Enoy bisa duduk tenang sambil makan sekalian peredam kelelahan bagi saya karena kejar-kejaran sama anak pas makan. Saya biarkan nonton juga sekalian buat kenalan sama lagu dan tarian. Enoy senang nonton Youtube, tapi malah ketergantungan.
Hari pertama tanpa handphone, drama kumbara terjadi. Enoy mencari handphone dan mulai menangis. Dia minta handphone, kami tolak. Kami biarkan dia marah dan menangis. Duh, pas dia menangis rasanya mau biarkan kembali nonton di handphone. Tapi bersama suami dan juga BS yang membantu menjaga Enoy, kami saling mengingatkan supaya tidak ada yang goyah haha. Hari kedua, sepulang kami dari tempat kerja, BS cerita kalau Enoy masih meminta handphone tapi sudah tidak menangis lagi. Puji Tuhan. Suami sebenarya terus memantau juga dari cctv. Hari ketiga sudah tidak meminta sama sekali sampai sekarang. Yes! Dia pun sudah tidak peduli kalau kami terlihat memegang handphone tanpa sengaja di depannya. Kami pun berkomitmen, ketika bersama Enoy, kami juga tidak boleh memegang handphone. Memang baru seminggu berjalan detoks gadget ini, tapi buat kami sebuah kemajuan berarti.
Jadi, apakah sekarang anti-gadget? Tidak, kami tidak anti gadget, kami tidak anti-Youtube. Kami tahu, bahwa teknologi malah akan menguntungkan bila dipakai sesuai porsinya. Saat ini, sebagai orang tua kami merasa harus memberi batasan kepada anak kami tentang penggunaan gadget; seberapa lama boleh menonton Youtube. Hari Sabtu kami berikan waktu sekitar satu jam kepada Enoy untuk menonton Youtube. Begitu kami minta dia berhenti nonton, dia berhenti kemudian ambil mainan. Enoy boleh menonton Youtube atau memegang handphone hanya pada hari Sabtu atau Minggu dengan waktu satu jam.
Sampai kapan? belum tahu. Kami akan batasi waktu menonton Enoy hingga saat dia bisa mengerti bahwa Youtube hanya sebagai fasilitas tambahan bukan yang utama. Singkatnya, kami tidak mau dia mengidolakan Youtube. Kami mau idolanya adalah orang tuanya sendiri. Pede sangat. LOL. Ya tidak mengapa kan ya.
Tidak ada tips yang gimana-gimana buat detoks gadget. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen dan harus tega haha. Kalau anak nangis, biarkan saja tapi tetap awasi. Kami pun masih belajar. Setiap hari sebagai orang tua kita terus belajar. Karena jadi orang tua belajarnya seumur hidup. Terus semangat ya.
Oh well, happy Monday anyway. I know everybody's feeling when we realize it's time to go back to work. I am right there with you dear all working parents. Happy work and have a nice day.
Masalah datang ketika menyadari anak saya, panggilannya Enoy, mulai sering nonton Youtube di handphone. Ini salah saya dan pasangan karena menjadikan Youtube sebagai penolong. Penolong disaat kami lelah menjaga atau menemani Enoy main. Jangan ditiru ya. Kalau bosan main, Youtube lagi. Kalau lagi bengong, Youtube lagi. Mau me time sebentar, kasih nonton Youtube. Mati gaya, Youtube lagi. Youtube jadi pelarian. Saya denial terus-terusan, "Ah, ngga apa-apa", "Lagian diawasi kok nontonnya", "Ngga, ngga akan kenapa-kenapa matanya. Masih kecil juga, matanya masih ok bingit lah". Akhirnya Enoy apa-apa maunya nonton Youtube. Dia mengidolakan Youtube.
Saya bilang ke suami, ini ngga baik. Enoy mulai addicted sama Youtube. Mainan dan kegiatan Montessori diacuhkan sama dia. Dan kami sama-sama sadar, terlalu banyak terpapar screen handphone tidak baik untuk kesehatan mata. Kami sepakat Enoy harus detoks gadget.
Detoks gadget Enoy kami mulai hari Minggu sepekan lalu. Dua hari sebelumnya, kami mulai sounding. "Enoy, nanti hp-nya mommy pinjam ya", "Enoy nanti ngga bisa sering nonton Youtube ya". Kalau dipikir kenapa bisa Enoy berkenalan dengan Youtube, karena dulu saya berikan supaya dia mau makan dengan tenang. Ada masanya Enoy GTM. Sungguh, masa GTM itu cobaan berat bagi ibu-ibu. GTM ialah singkatan dari gerakan tutup mulut alias anak ngga mau makan. Sekedar fyi buat yang mungkin belum tahu. Youtube penolong kala itu supaya Enoy bisa duduk tenang sambil makan sekalian peredam kelelahan bagi saya karena kejar-kejaran sama anak pas makan. Saya biarkan nonton juga sekalian buat kenalan sama lagu dan tarian. Enoy senang nonton Youtube, tapi malah ketergantungan.
Hari pertama tanpa handphone, drama kumbara terjadi. Enoy mencari handphone dan mulai menangis. Dia minta handphone, kami tolak. Kami biarkan dia marah dan menangis. Duh, pas dia menangis rasanya mau biarkan kembali nonton di handphone. Tapi bersama suami dan juga BS yang membantu menjaga Enoy, kami saling mengingatkan supaya tidak ada yang goyah haha. Hari kedua, sepulang kami dari tempat kerja, BS cerita kalau Enoy masih meminta handphone tapi sudah tidak menangis lagi. Puji Tuhan. Suami sebenarya terus memantau juga dari cctv. Hari ketiga sudah tidak meminta sama sekali sampai sekarang. Yes! Dia pun sudah tidak peduli kalau kami terlihat memegang handphone tanpa sengaja di depannya. Kami pun berkomitmen, ketika bersama Enoy, kami juga tidak boleh memegang handphone. Memang baru seminggu berjalan detoks gadget ini, tapi buat kami sebuah kemajuan berarti.
Jadi, apakah sekarang anti-gadget? Tidak, kami tidak anti gadget, kami tidak anti-Youtube. Kami tahu, bahwa teknologi malah akan menguntungkan bila dipakai sesuai porsinya. Saat ini, sebagai orang tua kami merasa harus memberi batasan kepada anak kami tentang penggunaan gadget; seberapa lama boleh menonton Youtube. Hari Sabtu kami berikan waktu sekitar satu jam kepada Enoy untuk menonton Youtube. Begitu kami minta dia berhenti nonton, dia berhenti kemudian ambil mainan. Enoy boleh menonton Youtube atau memegang handphone hanya pada hari Sabtu atau Minggu dengan waktu satu jam.
Sampai kapan? belum tahu. Kami akan batasi waktu menonton Enoy hingga saat dia bisa mengerti bahwa Youtube hanya sebagai fasilitas tambahan bukan yang utama. Singkatnya, kami tidak mau dia mengidolakan Youtube. Kami mau idolanya adalah orang tuanya sendiri. Pede sangat. LOL. Ya tidak mengapa kan ya.
Tidak ada tips yang gimana-gimana buat detoks gadget. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen dan harus tega haha. Kalau anak nangis, biarkan saja tapi tetap awasi. Kami pun masih belajar. Setiap hari sebagai orang tua kita terus belajar. Karena jadi orang tua belajarnya seumur hidup. Terus semangat ya.
Oh well, happy Monday anyway. I know everybody's feeling when we realize it's time to go back to work. I am right there with you dear all working parents. Happy work and have a nice day.

Comments
Post a Comment