Tentang pilihan menyekolahkan anak sedari dini
"Anak masih kecil kok sudah sekolah?"
"Masih kecil sudah sekolah, memangnya mau belajar apa?"
"Ah, paling ikut trend tuh makanya sekolah"
Perkara pendidikan anak usia dini (PAUD) memang tiada habisnya. Kemarin sempat scroll twitter feed saya hingga berhenti pada sebuah retweet-an tentang sebuah akun twitter yang berkomentar bahwa PAUD itu bukan pendidikan anak melainkan bisnis atas nama pendidikan anak. Well, saya mengaku bahwa dulunya saya sempat berpikir, ini kenapa banyak muncul sekolah PAUD ya? Tujuan sekolah PAUD ini apa? Kalau untuk bermain, mengapa harus ke sekolah kan di rumah juga bisa.
Semenjak menjadi ibu, salah satu yang menjadi fokus saya adalah pendidikan anak. Saya mencoba membaca buku, artikel, maupun berita yang temanya tentang pendidikan anak dan parenting. Hingga tiba pada pemahaman bahwa anak sedari lahir sudah siap untuk belajar. Mengapa? Pada saat bayi lahir, hal pertama yang bayi pelajari yaitu menyusu. Bahkan bila bayi diberikan susu formula melalui botol dot, pasti bayi tetap harus belajar menghisap alat dot, bukan? Lalu bayi belajar merangkak, berdiri hingga berjalan dan serangkaian pelajaran selanjutnya. Anak telah siap belajar sejak lahir.
I am not a parenting expert. I am clueless many times. Sometimes I got frustated too. LOL. Menjalani peran ibu pun baru berjalan dua setengah tahun. Namun yang terus saya ingat bahwa sebagai orang tua kita harus selalu membuka pikiran. Seperti tentang PAUD ini. Pasti ada alasan mengapa PAUD ada dan apa tujuannya. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sebuah artikel yang layak kita baca sebagai orang tua. It's really good and worth to read. Pendidikan anak usia dini (silahkan di-klik).
Yang sedang berpikir kapan waktu terbaik untuk menyekolahkan anak, saya sarankan membaca tulisan tersebut yang ditulis oleh Najeela Shihab, seorang pakar pendidikan anak. Semua orang tua mencintai anaknya. Menyekolahkan anak bahkan pada usia dini merupakan salah satu bentuk cinta orang tua pada anaknya. Mengutip tulisan tersebut, "Situasi setiap anak dan keluarga ataupun negara bisa berbeda. Hak anak untuk dididik sejak dini harus dilindungi, keputusan orang tua tentang anaknya, yang sudah melalui banyak pertimbangan, harus dihormati". Oiya ada lagi yang saya pelajari dari tulisan Ibu Najeela tersebut, bahwa anak bosan sekolah bukan karena terlalu cepat disekolahkan tetapi karena apa yang terjadi di dalam sekolahnya. Apakah gurunya bersikap hangat dan terbuka pada anak, beban pelajaran yang tidak berat atau hubungan anak dengan temannya.
Ya, ada alasan dibalik pilihan menyekolahkan anak pada usia dini. Pilihan yang harus kita hormati dan tidak perlu diperdebatkan. Kapan anak mau disekolahkan tergantung banyak faktor. Kesiapan anak, kesiapan orang tua, alasan-alasan tertentu, kebutuhan anak, kesiapan dana dan hal lainnya. Kondisi masing-masing keluarga berbeda.
Saya dan suami belum berniat memasukkan anak kami di sekolah PAUD. Saat ini kami rasa bahwa stimulasi yang kami berikan padanya sudah cukup memenuhi kebutuhannya. Namun bila suatu saat di depan anak kami membutuhkan lebih dari yang bisa kami usahakan, setidaknya kami sudah tahu kemana akan melangkah.
Selamat mencintai anak-anak kita.
"Masih kecil sudah sekolah, memangnya mau belajar apa?"
"Ah, paling ikut trend tuh makanya sekolah"
Perkara pendidikan anak usia dini (PAUD) memang tiada habisnya. Kemarin sempat scroll twitter feed saya hingga berhenti pada sebuah retweet-an tentang sebuah akun twitter yang berkomentar bahwa PAUD itu bukan pendidikan anak melainkan bisnis atas nama pendidikan anak. Well, saya mengaku bahwa dulunya saya sempat berpikir, ini kenapa banyak muncul sekolah PAUD ya? Tujuan sekolah PAUD ini apa? Kalau untuk bermain, mengapa harus ke sekolah kan di rumah juga bisa.
Semenjak menjadi ibu, salah satu yang menjadi fokus saya adalah pendidikan anak. Saya mencoba membaca buku, artikel, maupun berita yang temanya tentang pendidikan anak dan parenting. Hingga tiba pada pemahaman bahwa anak sedari lahir sudah siap untuk belajar. Mengapa? Pada saat bayi lahir, hal pertama yang bayi pelajari yaitu menyusu. Bahkan bila bayi diberikan susu formula melalui botol dot, pasti bayi tetap harus belajar menghisap alat dot, bukan? Lalu bayi belajar merangkak, berdiri hingga berjalan dan serangkaian pelajaran selanjutnya. Anak telah siap belajar sejak lahir.
I am not a parenting expert. I am clueless many times. Sometimes I got frustated too. LOL. Menjalani peran ibu pun baru berjalan dua setengah tahun. Namun yang terus saya ingat bahwa sebagai orang tua kita harus selalu membuka pikiran. Seperti tentang PAUD ini. Pasti ada alasan mengapa PAUD ada dan apa tujuannya. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi sebuah artikel yang layak kita baca sebagai orang tua. It's really good and worth to read. Pendidikan anak usia dini (silahkan di-klik).
Yang sedang berpikir kapan waktu terbaik untuk menyekolahkan anak, saya sarankan membaca tulisan tersebut yang ditulis oleh Najeela Shihab, seorang pakar pendidikan anak. Semua orang tua mencintai anaknya. Menyekolahkan anak bahkan pada usia dini merupakan salah satu bentuk cinta orang tua pada anaknya. Mengutip tulisan tersebut, "Situasi setiap anak dan keluarga ataupun negara bisa berbeda. Hak anak untuk dididik sejak dini harus dilindungi, keputusan orang tua tentang anaknya, yang sudah melalui banyak pertimbangan, harus dihormati". Oiya ada lagi yang saya pelajari dari tulisan Ibu Najeela tersebut, bahwa anak bosan sekolah bukan karena terlalu cepat disekolahkan tetapi karena apa yang terjadi di dalam sekolahnya. Apakah gurunya bersikap hangat dan terbuka pada anak, beban pelajaran yang tidak berat atau hubungan anak dengan temannya.
Ya, ada alasan dibalik pilihan menyekolahkan anak pada usia dini. Pilihan yang harus kita hormati dan tidak perlu diperdebatkan. Kapan anak mau disekolahkan tergantung banyak faktor. Kesiapan anak, kesiapan orang tua, alasan-alasan tertentu, kebutuhan anak, kesiapan dana dan hal lainnya. Kondisi masing-masing keluarga berbeda.
Saya dan suami belum berniat memasukkan anak kami di sekolah PAUD. Saat ini kami rasa bahwa stimulasi yang kami berikan padanya sudah cukup memenuhi kebutuhannya. Namun bila suatu saat di depan anak kami membutuhkan lebih dari yang bisa kami usahakan, setidaknya kami sudah tahu kemana akan melangkah.
Selamat mencintai anak-anak kita.

Comments
Post a Comment