Kehidupan setelah berkeluarga
Dulu sebelum menikah, weekend berarti ngemall, nyalon, ngumpul sama teman, nonton atau nongkrong di kamar baca buku. Sekarang? Beda jauh. Karena sekarang sudah menikah dan terlebih lagi sudah punya anak, jadi apa-apa semuanya tentang anak.
Perbedaan setelah berkeluarga? Saya jadi pribadi yang berbeda. Saya akui, ada yang hilang dari diri saya. Tidak mau berbohong kemudian bilang "Ah, tapi punya anak itu menyenangkan lho". Memang menyenangkan, tapi kenyataannya butuh pengorbanan besar. Banyak ibu yang memutuskan berhenti kerja demi bisa punya banyak waktu dengan anak. Mungkin memang ada yang senang bisa stop kerja tapi banyak juga yang sebenarnya ingin tetap berkarier namun kondisi tidak memungkinkan. Harus menata ulang banyak hal. Termasuk mimpi.
Berkeluarga itu bukan hanya sekedar menikah lalu punya anak. Akan banyak rentetan tanggung jawab setelahnya. Bagi yang ingin menikah coba tanya dulu sama diri sendiri dan calon pasangan, "sudah selesai sama diri sendiri, belum?" "sudah siap menata ulang kehidupan, belum?". Karena kalau belum, nanti bisa complicated. Maksudnya seperti ini, misalnya setelah menikah sebagai ibu kita akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga demi anak dan suami. Lambat laun ternyata ada hal yang kita rasa tidak sebanding dengan pengorbanan berhenti kerja. "Mama sudah begini begitu, kok, kamu malah susah diajar sih, nak?" Atau sama suami "Aku sudah berhenti kerja lho tapi kamu kenapa malah jadi begini?". Rumit, gengs.
Diawal tulisan saya katakan bahwa setelah berkeluarga saya menjadi pribadi yang berbeda. Tidak 100% berbeda, tapi banyak yang berubah. Dan paling berubah itu personal goals. Kalau dulu ditanya, apa personal goal kamu? Jawabannya bisa travelling around the world, punya bisnis, terbitkan sebuah buku. Kalau sekarang? Tabungan dana pendidikan anak saya bisa goal tepat waktu. Jujur, ini personal goal saya dan juga pasangan. Sekarang, apa-apa semua tentang anak.
Passion saya tentang parenting juga meningkat. LOL. Ini saja topiknya tentang keluarga. Ya mau gimana lagi kan sekarang memang jadi orang tua. Oiya, jadi orang tua itu belajar banget buat tahan diri, kan? Termasuk soal belanja. HA HA. Tapi kalau belanja buat anak malah kalap *geleng-geleng kepala*. Setelah menikah, saya dan pasangan memutuskan untuk (nekat) membeli rumah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, KPR itu berat saudara-saudara. LOL. *hapus air mata*. Bok, kami awal nikah itu, setelah selesai akad kredit rumah, kelam lah. Tabungan habis buat bayar DP eh masih lanjut harus hemat demi bisa bayar cicilan tiap bulan. Terpaksa kadang makan Indomie. HA HA HA. Oke, sekarang sudah bisa agak lega bayar cicilannya. Tapi kemudian pening lagi sama dana pendidikan anak. Ya, masih lanjut lah masa pengehematan itu. *cry*. Saya sudah lupa kapan terakhir belanja baju, LOL.
Kondisi saya amat sangat bisa berbeda dengan keluarga lainnya. Sebenarnya menulis ini lebih untuk reminder buat saya. Bahwa pasangan dan anak adalah mutiara hidup kita. Kalaupun mimpi-mimpi saya banyak yang berubah, tidak apa-apa. Karena salah satu mimpi terindah saya untuk memiliki pasangan dan anak, telah saya dapatkan ^-^ (ciyeeeeeee).
Salam hangat buat keluarga kalian ya.
Perbedaan setelah berkeluarga? Saya jadi pribadi yang berbeda. Saya akui, ada yang hilang dari diri saya. Tidak mau berbohong kemudian bilang "Ah, tapi punya anak itu menyenangkan lho". Memang menyenangkan, tapi kenyataannya butuh pengorbanan besar. Banyak ibu yang memutuskan berhenti kerja demi bisa punya banyak waktu dengan anak. Mungkin memang ada yang senang bisa stop kerja tapi banyak juga yang sebenarnya ingin tetap berkarier namun kondisi tidak memungkinkan. Harus menata ulang banyak hal. Termasuk mimpi.
Berkeluarga itu bukan hanya sekedar menikah lalu punya anak. Akan banyak rentetan tanggung jawab setelahnya. Bagi yang ingin menikah coba tanya dulu sama diri sendiri dan calon pasangan, "sudah selesai sama diri sendiri, belum?" "sudah siap menata ulang kehidupan, belum?". Karena kalau belum, nanti bisa complicated. Maksudnya seperti ini, misalnya setelah menikah sebagai ibu kita akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga demi anak dan suami. Lambat laun ternyata ada hal yang kita rasa tidak sebanding dengan pengorbanan berhenti kerja. "Mama sudah begini begitu, kok, kamu malah susah diajar sih, nak?" Atau sama suami "Aku sudah berhenti kerja lho tapi kamu kenapa malah jadi begini?". Rumit, gengs.
Diawal tulisan saya katakan bahwa setelah berkeluarga saya menjadi pribadi yang berbeda. Tidak 100% berbeda, tapi banyak yang berubah. Dan paling berubah itu personal goals. Kalau dulu ditanya, apa personal goal kamu? Jawabannya bisa travelling around the world, punya bisnis, terbitkan sebuah buku. Kalau sekarang? Tabungan dana pendidikan anak saya bisa goal tepat waktu. Jujur, ini personal goal saya dan juga pasangan. Sekarang, apa-apa semua tentang anak.
Passion saya tentang parenting juga meningkat. LOL. Ini saja topiknya tentang keluarga. Ya mau gimana lagi kan sekarang memang jadi orang tua. Oiya, jadi orang tua itu belajar banget buat tahan diri, kan? Termasuk soal belanja. HA HA. Tapi kalau belanja buat anak malah kalap *geleng-geleng kepala*. Setelah menikah, saya dan pasangan memutuskan untuk (nekat) membeli rumah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, KPR itu berat saudara-saudara. LOL. *hapus air mata*. Bok, kami awal nikah itu, setelah selesai akad kredit rumah, kelam lah. Tabungan habis buat bayar DP eh masih lanjut harus hemat demi bisa bayar cicilan tiap bulan. Terpaksa kadang makan Indomie. HA HA HA. Oke, sekarang sudah bisa agak lega bayar cicilannya. Tapi kemudian pening lagi sama dana pendidikan anak. Ya, masih lanjut lah masa pengehematan itu. *cry*. Saya sudah lupa kapan terakhir belanja baju, LOL.
Kondisi saya amat sangat bisa berbeda dengan keluarga lainnya. Sebenarnya menulis ini lebih untuk reminder buat saya. Bahwa pasangan dan anak adalah mutiara hidup kita. Kalaupun mimpi-mimpi saya banyak yang berubah, tidak apa-apa. Karena salah satu mimpi terindah saya untuk memiliki pasangan dan anak, telah saya dapatkan ^-^ (ciyeeeeeee).
Salam hangat buat keluarga kalian ya.

Comments
Post a Comment